My Experience

Belajar Ikhlaskan dan Lepaskan

Semakin di gengam keras, semakin sakit pula tanganku. Itupula yang kurasakan saat lomba tarik tambang. Sakit di tangan itu seperti penderitaan yang muncul, terkadang dengan melepas, bisa mengurangi rasa sakit dan sembuh pada akhirnya. Namun jika ingin menang harus mempertahankan gemgaman tersebut. Ketika mustahil, adakalanya tidak semua tarik tambang itu memiliki value yang sama. Dan bisa menjadi toxic secara pikiran dan fisik. Untuk itu kita mengenal istilah Iklaskan dan Lepaskan.

Keinginan yang kuat terhadap goal cita-cita dapat memberikan sensasi kemelekatan yang tinggi.

Ketika masa kecil saya ditanamkan untuk harus selalu patuh kepada guru dan orang tua. Terlepas guru dan orang tua tersebut benar atau salah. Intinya harus menurut dan harus selesai. Dan itu terbawa sampai dewasa, sehingga menjadi sebuah kemelekatan hidup.

Padahal sesuatu yang melekat itu menyakitkan jika tidak tercapai.

Seperti pertemanan, ketika berpisah dengan teman-teman karena perbedaan tujuan sekolah lanjutan, kuliah, kerja sampai berumah tangga. Perpisahaan itu menjadi sangat meenyedihkan karena kemelakatan terhadap persahabatan.

Kehidupan sehari hari adalah tanggung jawab yang harus dijalani, berbeda ketika masa kecil/ remaja masih memiliki kebebasan untuk bermain, bercanda, berolahraga, tukar pendapat dan berkegiatan bersama lainnya.

Yang lebih mendalam lagi adalah perpisahaan abadi dengan sahabat dan anggota keluarga untuk selama-lamanya. Ketika makin melekat terhadap persahabatan dan keluarga. Semakin sakit pula ketika perpisahaan itu terjadi.

Kunci untuk dapat mengikis rasa sakit itu adalah dengan belajar perlahan-lahan untuk melepaskan dan mengiklaskan.

Belajar ilklas dan melepas itu butuh proses yang panjang, ada yang mingguan, bulanan ada yang tahunan. Saya termasuk yang lama untuk melepaskan suatu kejadian yang menyakitkan dan menyedhkan. Sebagai pribadi yang tulus dan lurus, adalah pribadi yang mudah terluka, karena doktrin untuk selalu menjadi anak baik.

Waktu kecil saya percaya bahwa kehiidupan itu seperti di film, bahwa orang baik pada akhirrnya akan selalu menang, Namun ketika dewasa semakin menyadari bahwa kehidupan itu abu-abu. Bahkan berita yang kita bacapun banyak kejadian yang diluar ekspetasi kita.

Belajar melepas dan iklas, dengan memahami konsep dunia. Apapun yang terjadi tetap berbuat kebaikan tanpa pamrih, Belajar konsep stoik, yaitu berhenti mengendalikan apa yang tidak bisa saya kontrol. Seperti opini orang lain, waktu, cuaca, dan lainnya. Fokus pada apa yang bisa saya kontrol yaitu sikap kita merespon kejadian dan hal tersebut. Awalnya tidak mudah, karena orang-orang diluar banyak yang sudah bermental pertahanan bahwa merekalah yang paling benar. Entah bagaimana sulit untuk berbicara dan membingungkan siapa yang benar dan tidak benar ketika menghadapi orang-orang ini.

Salah satu cara terbaik adalah iklas dan melepaskan memory buruk tersebut. Ada pepatah yang mngatakan bahwa lingkungan dapat mempengaruhi hidup. Jika itu sudah tidak sehat dan mengganggu hidup, cara melepas adalah yang terbaik, walaupun rasanya sakit diawal. Namun itu lebih baik daripada rasa sakit seumur hidup.

Menurut beberapa sumber yang saya cari di internet, google, dan medsos. Saya tertarik dengan cara MelRobbins yaitu menggunakan metode 5 detik. Ketika rasa itu muncul, iklaskan dengan alihkan untuk diawal saja. Sehingga pikiran tidak melekat pada kejadian tersebut. 5,4,3,2,1 terkadang berhasil, namun tidak jika sudah depresi. Cara lainnyya yang diannjurkan adalah berjalan kaki selama 30 menit di alam terbuka/ diluar rumah. Hal tersebut dapat menyeimbangkan hormon dalam badan dan merasa menjadi lebih baik. Cara lain yang saya lakukan adalah memulai kesibukan baru, hobby baru, mengaktifkan hobby lama dan berkumpul dengan teman-teman dan keluarga yang penuh aura positif.

Itu berhasil, namun jangan pernah menyesal menjadi orang baik, dunia ini masih butuh banyak orang baik.

Tidak ada metode yang paling benar dalam belaja iklad dan melepas. Dan yang paling efektif bagi saya adalah olahraga, jalan kaki/cycling, membuat kesibukan dengan hobby baru dan lama, berkumpul bersama dengan teman dan keluarga yang memiliki aura positif.

Iklas itu berserah kepada yang kuasa. Tidak melekat pada hasil akhir atas pengorbanan yang telah dilakukan. Sehingga batin lebih damai dalam menjalani kehidupan. Pikran tidak melekat ke masa lalu, bisa fokus hari ini dan merencanakan masa depan.

Ingat melepas itu bukan berarti menyerah terhadap kehidupan. Melainkan suatu cara untuk dapat mengurangi kemelekatan dengan menerima kenyataan dahulu. Karena penderitaan itu datang dari kemelekatan yang tinggi. Dengan melepas bisa membuat saya moveon untuk sesuatu hal yang lebih baik dan lebih besar dalam hidup ini. Semoga kita hidup berbahagia.

Bahagia dan Kebaikan berawal dari pikiran